Mengendalikan Hati dan Pikiran

17 Januari 2019

Filipi 4:7
Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.

Sesungguhnya orang yang paling kuat, adalah orang yang dapat mengendalikan hati dan pikirannya. Namun betapa sering kita sulit untuk itu.

Hati yang damai serta pikiran tenang membuat kita produktif akan hal-hal positif. Penyakit tertentu menjauh. Makan, minum dan tidur jadi enak. Itulah sesungguhnya yang amat kita butuh.

Kesibukan, pekerjaan yang menumpuk, merasa tidak ada orang yang peduli, usaha tak lancar, kegagalan, penyakit, dan sebagainya... sering menjadikan emosi kita naik-turun.

Mungkin ada banyak nasihat dan petunjuk untuk mengatasi emosi yang tak stabil. Tetapi sering itu juga tak berhasil mengobati.

Dalam hal itu, keyakinan akan pemeliharaan Tuhan yang dapat mengobati. Damai sejahtera Allah yang melampaui segala akal yang dapat menyembuhkan penyakit emosi.

Oleh sebab itu kita diajak untuk terus memelihara hubungan baik kita dengan Allah. 

Adalah baik sebelum kita melakukan apa-apa setiap pagi... kita terlebih dahulu sujud dan menyembah Tuhan. Inilah salah satu cara terbaik yang dapat kita lakukan agar damai sejahtera Allah yang melampaui akal itu bekerja dan beroperasi dalam hidup kita.

Selamat bekerja.
Selamat belajar.
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan memimpin dan menuntun kita dengan damai sejahtera-Nya.
Amin...

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung.

Ku Bersukacita, Anak-anakku Hidup Dalam Kebenaran

16 Januari 2019

3 Yohanes 1:4
Bagiku tidak ada sukacita yang lebih besar dari pada mendengar, bahwa anak-anakku hidup dalam kebenaran.

Rasul Yohanes mengungkapkan sukacita besarnya yang utama adalah jika orang-orang yang dia bawa kepada Kristus hidup dalam kebenaran. Inilah sejatinya Yohanes sebagai rasul dan murid Yesus.

Jika kita hidup dalam kebenaran, sesungguhnya kita juga sedang memenuhi sukacita rasul Yohanes tersebut... terlebih menyukakan hati Tuhan. Seandainya Yohanes masih hidup, mungkin dia juga menuliskan surat yang sama isinya buat kita.

Tentu kitapun sebagai pelayan Kristus amat senang dan bersukacita bila orang-orang yang dipercayakan Tuhan kepada kita... mereka hidup dalam kebenaran.

Begitu juga tentunya para orang tua akan bersukacita dan senang, serta serasa dipanjangkan Tuhan umurnya jika dia lihat... dia saksikan... dia dengar... dia tahu bahwa anak-anaknya hidup dalam kebenaran.

Oleh sebab itu dalam seluruh perjuangan hidup kita di dunia kerja dan profesi, di dalam keluarga, dalam pelayanan, dalam semua tanggung jawab kita masing-masing, mari kita dasari semua itu dalam kebenaran yang dipimpin oleh Tuhan. 

Biarlah kita terus melakukan bagian kita yang membuat Tuhan berkenan atas kita. 

Bayangkanlah seandainya Tuhan mengirim WA ke kita, biarlah Dia JAPRI kepada kita semua dengan mengacungkan tanda: jempol, senyum, tertawa sebagai pujian-Nya pada kita. 
Taoi janganlah kiranya Tuhan tidak mengirim simbol WA cemberut, sedih, berpeluh dan sebagainya yang menunjukkan ekspresi sedih-Nya melihat kehidupan kita.
Semoga !

Selamat bekerja.
Selamat belajar.
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan memimpin dan menuntun kita hidup dalam kebenaran.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung.

Belajar Mencukupkan Diri

15 Januari 2019

Filipi 4:11
Kukatakan ini bukanlah karena kekurangan, sebab aku telah belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan.

Ada seorang teman mengeluh soal uang. Masalahnya dia baru saja dapat bonus kerja yang cukup banyak. Namun tidak dia sadari, uangnya itu habis begitu saja seolah tak berbekas. Tak ada yang dia tabung. Bahkan anehnya pada saat itu dia merasa kekurangan uang. 

Setelah diteliti rupanya uang yang banyak itu dipakai tidak bijak. Dia membeli beberapa barang yang sebetulnya tidakpun dibeli tidak apa-apa, apalagi harganya mahal.

Ada orang yang pendapatannya kecil, tapi dia masih bisa menyisihkan sebagian uangnya itu walau tak banyak.

Kuncinya agar tidak kekurangan adalah memahami prioritas apa yang mau dibeli serta belajar untuk mencukupkan diri. 

Seorang penulis buku mendadak kaya raya. Bukunya terjual laris. Dia mendapat uang banyak dari penjualan bukunya. Namun dia tidak lepas kendali atas melimpahnya uang. Dia sudah mematok standar hidupnya untuk tidak bermanja-manja dengan uang yang banyak. Uangnya digunakan untuk hal-hal yang pantas dan perlu. Dia hidup atas apa yang perlu, bukan atas apa yang diinginkan.

Rasul Paulus hidup dengan sederhana. Dia katakan bahwa dia belajar mencukupkan diri atas apa yang ada dalam segala keadaan.

Kiranya kita juga didorong untuk belajar mencukupkan diri dalam segala keadaan. 

Bila kita bisa menahan diri, dan disiplin memakai uang untuk apa yang perlu, maka kita dapat hidup tenang, bahagia dan tidak was-was atas setiap situasi keuangan kita. Begitulah semestinya kita. 

Selamat bekerja.
Selamat belajar.
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan yang menjaga dan mengatur hidup kita dengan baik.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung.

Bergembira Di tengah Pencobaan

14 Januari 2019

1 Petrus 1:6-7 
Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya.

Jika kita berpikir di luar Kristus, pastilah terasa aneh apa yang dituliskan Petrus dalam ayat di atas. Bagaimana mungkin kita dapat bergembira di tengah pencobaan? Apakah maksudnya agar kita mati rasa?

Sering kita lihat ada banyak orang stres, bahkan depresi karena begitu beratnya tantangan hidup.

Di dalam Kristus, kita memandang bahwa pencobaan diijinkan Tuhan kita alami sebagai ujian agar melaui itu kita teruji. Iman kita dimurnikan. 

Kita sering dikuatkan bukan saja atau bukan hanya dengan apa yang dikatakan dan nasihat orang, tetapi justru sering lebih kuat oleh imbas orang yang tetap bertumbuh, kuat dan tetap setia di tengah derita yang ada. 

Saat ujian datang, tentu saat itu adalah proses yang tidak mudah. Akan tetapi bagi kita yang melihat orang tetap kuat dalam ujian hidupnya, hal itu merupakan kuliah hidup dan memberkati. Kita terasa diberkati dan dikuatkan melalui hidup orang-orang yang terus maju ke depan meski banyak tantangan.

Tuhan mengijinkan kita diuji. Walaupun terasa menyakitkan, tapi Tuhan tertarik dengan prosesnya sampai dengan melihat hasilnya setelah ujian itu berakhir.   

Sama halnya ketika seorang murid sekolah harus ikut ujian. Dalam masa ujian sang murid merasa berat. Dia harus belajar, harus latihan untuk memecahkan contoh-contoh soal. Tetapi melalui ujian itulah dia akan naik kelas. Dia naik level... naik tingkat.  Begitu ujian selesai dan dinyatakan LULUS, bahkan apalagi dapat nilai memuaskan, maka terlupakanlah beratnya belajar sebelumnya.

Janganlah merasa atau jangan memposisikan diri kita sebagai orang tak beruntung saat ada banyak tantangan hidup. Pandanglah dan sikapilah ujian hidup kita sebagai sebuah kesempatan untuk naik kelas dalam beriman dan sebuah instrumen untuk memahami kedewasaan kita. 

Yakinlah juga bahwa setiap ujian hidup itupun pastilah ada durasinya... ada waktunya. Tuhan tahu dan atur semua itu.

Meskipun ujian hidup kita saat ini berat, namun tetaplah ceria dan jangan hilang sukacita. 
Pandanglah Yesus! 

Bersama Yesus kita akan dapat melewati segenap SKS mata kuliah hidup kita dengan gemilang. Kita akan LULUS SEMPURNA menjadi Sarjana Kehidupan. Wisudanya tunggu nanti saat Kristus datang dalam segenap kemuliaan-Nya.
Amin...

Selamat belajar.
Selamat bekerja.
Selamat melayani.

Tuhan Yesus menyertai kita.
Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung.

Tetap Setia Kepada Tuhan

13 Januari 2019

Rut 1:16
Tetapi kata Rut: "Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku

Entah apa yang menggerakkan Rut sehingga ia setia menemani ibu mertuanya. Padahal mertuanya, Naomi, sudah menyuruh Rut untuk berpisah saja. Tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari Naomi.

Secara manusia, mungkin belas kasihan Rut yang membuat ia tetap setia bersama Naomi. Secara iman kita dapat juga berkata memang itu ketetapan dari Tuhan. Tuhan yang menggerakkan hati Rut untuk mendampingi Naomi.

Atau mungkin ada lagi hal lain yang menyebabkan Rut tetap berkeras bersama Naomi.

Apapun kita buat alasannya, yang jelas Rut luar biasa. Ini teladan bagi kita. Dalam kehidupan keseharian, sering sulit menjalin keharmonisan antara seorang wanita dengan ibu mertuanya, tapi ini beda. Jadi pastilah karakter Rut hebat. Tentu Naomi juga hebat. Sama hebatnya mereka berdua.
👍👍👍👍👍

Jika kita melanjutkan pembacaan kitab Rut ini, maka Rut akhirnya secara luar biasa diberkati Tuhan menjadi seorang ibu yang hebat pula. Pernikahannya dengan Boas melahirkan Obed. Obed ayah dari Isai. Isai ayah dari raja Daud. Artinya Daud adalah cicit dari Rut.

Rut 4:17  
Dan tetangga-tetangga perempuan memberi nama kepada anak itu, katanya: "Pada Naomi telah lahir seorang anak laki-laki"; lalu mereka menyebutkan namanya Obed. Dialah ayah Isai, ayah Daud.

Menakjubkan hidup Rut. Dari keturunannya lahir raja Daud... dan lebih ajaib lagi dari keturunan Rut lahir Raja di atas segala raja... Yesus Kristus Sang Mesias.

Kisah hidup Rut ini bercerita dan mengajarkan kepada kita tentang pentingnya senantiasa setia... setia kawan... setia melakukan apa yang baik... setia kepada janji... setia kepada Tuhan. Pastilah Rut tidak tahu apa upahnya ketika dia setia kepada ibu mertuanya, Naomi. Yang penting bagi dia tetap setia, dia jalani itu dengan tulus...

Oleh karena itu, walau kita tidak memahami ke mana ujungnya kesetiaan kita, tidak apa-apa... tak perlu pikirkan itu. Tuhan yang memimpin kita dalam kesetiaan. Yang penting marilah kita tetap setia, terlebih setia kepada Yesus Tuhan kita.

Selamat Hari Minggu.
Selamat beribadah.
Selamat melayani.

Tuhan Yesus yang adalah setia... senantiasa menyertai kita.
Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung.

Lawatan dan Jamahan Tuhan

12 Januari 2019

Daniel 10:7-8, 18-19
Hanya aku, Daniel, melihat penglihatan itu, tetapi orang-orang yang bersama-sama dengan aku, tidak melihatnya; tetapi mereka ditimpa oleh ketakutan yang besar, sehingga mereka lari bersembunyi; demikianlah aku tinggal seorang diri. Ketika aku melihat penglihatan yang besar itu, hilanglah kekuatanku; aku menjadi pucat sama sekali, dan tidak ada lagi kekuatan padaku.
Lalu dia yang rupanya seperti manusia itu menyentuh aku pula dan memberikan aku kekuatan, dan berkata: "Hai engkau yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya, jadilah kuat!" Sementara ia berbicara dengan aku, aku merasa kuat lagi dan berkata: "Berbicaralah kiranya tuanku, sebab engkau telah memberikan aku kekuatan."

Beberapa kutipan ayat di atas menunjukkan sebuah penglihatan istimewa yang dialami Daniel.

Siapa sesungguhnya yang dilihat Daniel?
Tentu hal ini menarik untuk dipelajari.

Namun hal yang utama juga dalam penglihatan itu adalah sapaan kepada Daniel dengan perkataan, "Hai engkau yang dikasihi, janganlah takut, sejahteralah engkau, jadilah kuat, ya, jadilah kuat!"

Daniel disapa dengan adanya suara, "Hai engkau yang dikasihi..."
Ini tentulah sangat istimewa.

Meski kita tidak seperti Daniel mengalami langsung adanya penglihatan istimewa, namun sesungguhnya kita dapat rasakan lawatan Tuhan melalui kehadiran-Nya dalam doa-doa kita serta melalui setiap kita merenungkan firman-Nya.

Hanyalah bentuknya saja yang berbeda, namun sesungguhnya kita dilawat Tuhan setiap hari. Allah rindu melawat kita. Kitalah yang sering seadanya saja memberi waktu dan kesempatan untuk Allah berbicara khusus kepada kita dalam lawatan-Nya. Kita kikir waktu untuk Tuhan.

Kita yang sering terburu-buru dengan segala jenis kesibukan kita, sehingga kurang waktu untuk perjumpaan khusus dengan Tuhan.

Bagi kita yang sudah percaya dan menerima Kristus, masalah utama kita mungkin adalah menurunnya kualitas perjumpaan kita dengan Tuhan setiap hari. 

Kita banyak digerakkan oleh rencana dan agenda kita yang luar biasa banyaknya. Atau kalau kita kurang sibuk, kita sering malas serasa tak bergairah untuk berjumpa khusus dengan Tuhan. 

Kalau kita baca dalam Daniel 10 pada ayat 2 dan 3, bahkan dari fasal sebelumnya, terlihat usaha Daniel dan kerinduannya. Daniel berdoa kepada Tuhan. Dengan demikianlah Daniel mengalami lawatan khusus Tuhan.

Kini, oleh banyaknya keinginan kita untuk berbuat apa saja untuk kehidupan yang kita rasa membuat kita lebih baik... tidak akan terjadi kalau momen-momen perjumpaan khusus kita dengan Tuhan diabaikan.

Kalaupun terlihat secara fisik kita sukses, namun sebetulnya hati kita merana karena kebutuhannya tak terpenuhi. Kebutuhan hati kita adalah Tuhan sebetulnya. Dalam hati kita ada ruang yang harus diisi oleh Tuhan, bukan yang lain. Namun sering kita lupa itu. Akibatnya sering muncul ketakutan dan kekhawatiran, bahkan stress yang sebetulnya tak perlu terjadi bila kita rasakan lawatan dan jamahan Tuhan. 

Sahabat...
Jangan pelit waktu untuk kehidupan rohani kita!
Kasihilah hati kita! 
Perhatikanlah kebutuhannya!
Sesibuk apapun kita, janganlah lupa kebutuhan hati dan jiwa kita untuk mengadakan perjumpaan khusus dengan Tuhan.

Selamat berlibur.
Selamat beraktifitas.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan memberkati kita.
Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Takut Akan Tuhan

11 Januari 201

Amsal 15:16
Lebih baik sedikit barang dengan disertai takut akan TUHAN dari pada banyak harta dengan disertai kecemasan.

Membaca ayat di atas tidaklah berarti bahwa barang atau harta tidak diperlukan. Kita perlu itu. Namun ditekankan betul kata: takut akan Tuhan.

Penting untuk diingatkan terus bagi kita agar takut akan Tuhan. Itulah dasar hidup kita. Itulah cara dan motto hidup kita. Takut akan Tuhan berarti menghormati Dia. Mengikut Dia. Taat kepada-Nya.

Pernah seorang sahabat yang sudah memiliki posisi penting harus membuat sebuah keputusan. Dia dapat membuat keputusan dimana dia akan diuntungkan. Artinya dia mendapat perolehan lebih sebagai hasil keputusannya. Akan tetapi akhirnya dia memilih untuk memutuskan dimana dia tidak diuntungkan. Namun dia tahu bahwa keputusannya itu berpihak kepada kepatutan dan kebenaran serta kepentingan umum.

Setelah ditanya mengapa dia bisa memutuskan seperti itu, dia mengatakan Amsal 15:16 itulah dasarnya. Rupanya ayat itu begitu kuat mempengaruhi, sehingga dia merasa damai walau tak beroleh apa-apa. 

Ada yang mengira dia bodoh tidak menggunakan kesempatan. Orang sekitar dia menyarankan membuat keputusan yang dapat menguntungkan secara pribadi. Tapi dia berkata tidak! Nyatanya dia tenang, dan Tuhan buka pintu lain untuk memenuhi kebutuhannya. Hatinya bersukacita dan ada JOY di hati. Apalagi yang kurang kalau sudah begitu?

Marilah kita menghafalkan Amsal 15:16 tersebut dan melakukannya. Mari kita dipimpin oleh kebenaran firman Tuhan dalam seluruh segi hidup kita... agar segenap kita berdasarkan TAKUT AKAN TUHAN.

Selamat beraktifitas.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan memberkati kita.
Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

RENUNGAN

KRISTEN PROGRESIF vs AJARAN ALKITAB

11 April 2024   KRISTEN PROGRESIF vs AJARAN ALKITAB   Beberapa hari ini kita dimarakkan dengan viralnya video yang menayangkan wawancara den...