Tampilkan postingan dengan label (18) Ags 2017. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (18) Ags 2017. Tampilkan semua postingan

Jangan Takut


10-Ags-2017



2 Timotius 1:7 

Sebab Allah memberikan kepada kita bukan roh ketakutan, melainkan roh yang membangkitkan kekuatan, kasih dan ketertiban.



Yang namanya hidup... ada banyak ketakutan dan kekhawatiran kita dalam berbagai bentuk. Cobalah sejenak merenungkan dan catatlah 5 hal yang menjadi ketakutan kita !

1. . . . . . . . . .

2. . . . . . . . . .

3. . . . .  .  . . .

4. . . . . . . . . .

5. . . . . . . . . .



Apa yang kita lakukan dengan ketakutan kita?

• Melupakannya?

• Pasrah saja?

• Memikirkannya dalam-dalam?

• Menceritakan kepada teman dan meminta nasihat?

• . . . . . . . . . .?



Tuhan memahami segala bentuk ketakutan kita dan peduli dengan itu. Oleh karena itu Dia memberi kekuatan.



Rasa takut dapat merusak fisik kita juga. Ada banyak penyakit yang tidak disebabkan oleh bakteri atau virus, tetapi oleh rasa takut. Pada saat muncul rasa takut, ada perasaan menusuk-nusuk diri kita. 



Sering seperti bola salju bergulir menggelinding... rasa takut dalam satu hal memicu ketakutan lain sehingga membesar rasa takut itu.



Adalah baik untuk menceritakan dan meminta bantuan kepada teman untuk mengatasi ketakutan, sebab itu kita butuh kawan, kita perlu sahabat. Akan tetapi sebelumnya, yakinkan diri kita bahwa Allah mengerti dan memahami rasa takut kita. Mintalah kekuatan kepada Dia. Tuhan akan memberi kekuatan baru untuk mengatasi rasa takut. Paling tidak, Tuhan dapat memberhentikan bola salju ketakutan kita sehingga tidak berkepanjangan dan tidak merambah ke mana-mana.



Ada banyak seruan Tuhan dalam firman-Nya untuk mengatakan agar kita jangan takut. Tuhan banyak sekali berseru bahwa Dia menyertai kita. Namun masalah kita selalu adalah ketidakyakinan kita akan seruan-Nya. 



Kekuatan fisik kita akan terpelihara jika kita memakan makanan sehat, berpikir sehat dan berolahraga. Maka dengan cara yang sama, jiwa dan rohani kita akan sehat bila kita menikmati firman-Nya setiap hari, menaruh firman-Nya dalam hati dan pikiran, serta berlatih melalui setiap tantangan dan ujian hidup. 



Dalam hal itu semua yakini pertolongan Tuhan. Juga ingatlah bahwa Roh Kudus ada dalam hati orang yang telah menerima-Nya dan itulah kekuatan utama kita...

Efesus 1:13 

Di dalam Dia kamu juga — karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu — di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu.



Kiranya sehatlah fisik, jiwa dan rohani kita untuk siap melayani dan berkarya melakukan apa yang baik, luhur dan mulia di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia. Sebab itulah panggilan kita.

SEMOGA...!!!



Selamat bekerja...

Selamat beraktifitas...

Selamat melayani...



Janganlah takut dan bimbang sebab Tuhan menyertai dan memberkati kita senantiasa. 

Amin...



Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Lakukan yang Berguna Selagi Masih Hidup


09-Ags-2017



Pengkhotbah 9:10

Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.



Dahulu ada salah satu mata pelajaran sekolah disebut sebagai prakarya atau pekerjaan tangan. Dalam pekerjaan tangan itu, para siswa disuruh membuat suatu karya... bekerja menghasilkan sesuatu yang dapat dilihat nyata dan ada manfaatnya. 



Orang yang berbaik hati dan suka menolong disebut sebagai ringan tangan.

Orang yang tidak melakukan apa-apa disebut berpangku tangan.

Orang yang suka mengambil bukan haknya dijuluki panjang tangan.

Orang yang bekerja atau melakukan sesuatu atas perintah atau suruhan diistilahkan dengan perpanjangan tangan.



Masih ada istilah-istilah lain yang dikaitkan dengan tangan. Tangan adalah simbol atau lambang bekerja, beraktifitas dan berusaha.



Pengkhotbah mengingatkan kita untuk tekun bekerja. Apa saja yang dijumpai tangan untuk dilakukan agar dikerjakan dengan sekuat tenaga. Itu pesan penting.



Tenaga dan kapasitas kita tidak sama. Pekerjaan kita berbeda-beda. Upah kerja kitapun tidak sama... ada yang besar dan ada yang kecil (walau besar dan kecil relatif artinya). Tetapi persamaannya ada yaitu sungguh-sungguh. 



Hendaknya keseriusan kerja tidak bergantung kepada besarnya upah. Dalam pandangan Tuhan, orang yang upahnya kecil namun bekerja keras jauh lebih mulia dan terhormat daripada orang yang ditempatkan di tempat basah berupah besar namun malas-malasan.



Bagi setiap anak-anak Tuhan mestinya tidak ada lagi istilah malas, meski memang sering itu jugalah masalah yang sering kita hadapi.



Lebih lanjut Pengkhotbah mengatakan bahwa bekerja sungguh-sungguh itu adalah sekarang, selagi kita hidup. Pekerjaan tidak ada di dunia orang mati. Setelah mati tidak lagi pekerjaan... yang ada adalah status menunggu saja... menunggu datangnya HAKIM AGUNG.



Makna lain yang mungkin agak berat untuk disebutkan (saya minta maaf...), bahwa orang yang sehat fisiknya, namun malas bekerja dan tidak serius dengan tanggung jawabnya adalah sebetulnya sudah berada di dunia orang mati, walau dia masih tarik nafas. Dia hanyalah menghabis-habiskan sumber daya alam saja.



Para sahabat... mari kita tekun bekerja. Biarlah tangan kita bekerja efektif menghasilkan apa yang berguna bagi diri kita... bagi keluarga... bagi masyarakat luas. Bekerja keras yang mendatangkan manfaat adalah salah satu kehormatan hidup dan itu berkenan di hadapan Tuhan.



Selamat bekerja...

Selamat beraktifitas...

Selamat melayani...



Tuhan menyertai dan memberkati kita senantiasa.



Teriring salam dan doa,

Alamta Singarimbun-Bandung

Deangarkanlah DIA!


08-Ags-2017



Lukas 9:35 

Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: "Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia." 



Ketika Yesus dimuliakan di atas gunung, salah satu yang amat penting adalah terdengarnya suara yang mengatakan,  

"........ dengarkanlah Dia"  

Suara itu adalah suara Allah Bapa yang menyuruh murid-murid untuk mendengar Yesus.



Sebagai murid Yesus, kita harus mendengarkan Yesus. Kita mesti memperhatikan dan menyimak apa kata-kata-Nya. Sebagaimana kita butuh makan setiap hari untuk energi fisik kita, maka kata-kata-Nya adalah energi penting sebagai bekal hidup kita. Itulah sebabnya mengapa kita setiap hari perlu duduk tenang dan dengar-dengaran akan suara-Nya.



Dengan mendengar suara-Nya, bararti kita menghormati Dia. Salah satu tanda seorang anak terdidik adalah jika mendengar suara orang tuanya. 

Mendengar suara-Nya membuat...

• kita berada di jalan yang aman,

• kita dipertajam dan diasah sebagai pekerja Kristus untuk lebih peka melakukan apa yang baik dan berguna untuk membangun, 

• kita menjadi kuat,

• kita berbahagia,

• kita diperlengkapi menjadi berkat Tuhan bagi sesama kita.



Dengan merindukan suara Tuhan, marilah kita berseru seperti seruan pemazmur:

"Dengan segenap hatiku aku mencari Engkau, janganlah biarkan aku menyimpang dari perintah-perintah-Mu.

Dalam hatiku aku menyimpan janji-Mu, supaya aku jangan berdosa terhadap Engkau. Terpujilah Engkau, ya TUHAN; ajarkanlah ketetapan-ketetapan-Mu kepadaku.

(Mazmur 119:10-12)



Setelah mendengar suara Yesus, lengkapilah kebahagiaan kita dengan melakukan perintah-Nya, sebab yang berbahagia adalah orang yang mendengar firman Allah dan yang melakukannya.



Bukalah telinga hati kita seluas-luasnya untuk mendengar suara Yesus, dan setelah itu bergeraklah melakukannya.



Selamat bekerja...

Selamat beraktifitas...

Selamat melayani...



Tuhan menyertai dan memberkati kita senantiasa.



Teriring salam dan doa,

Alamta Singarimbun-Bandung

Apa yang Harusnya Terutama?


07-Ags-2017



Matius 6:33 

Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.



Ayat di atas kembali mengingatkan kita tentang dua hal yang dinyatakan dalam dua kata yaitu carilah dan ditambahkan.



Kita disuruh mencari. Mencari artinya mengusahakan, memikirkan, mengutamakan, menemukan, menghidupi, merindukan... mungkin ada kata lain?



Ditambahkan artinya dilebihkan, bonus, tambahan upah, dan sebagainya.



Apa yang disuruh Yesus untuk kita cari? 



Kita disuruh mencari Kerajaan Allah dan kebenarannya. Kita disuruh melakukan pekerjaan Allah. Kita disuruh hidup sesuai dengan kehendak Allah. Taat. Agar hidup kita berpadanan dengan panggilan-Nya. Melakukan apa yang benar.



Lantas... Allah akan menambahkan apa yang kita perlu. Tuhan berikan bonus-bonus hidup. Kalau kita lihat ayat sebelumnya, Tuhan Yesus berbicara soal kekhawatiran akan makanan...soal pakaian... soal kebutuhan hidup... soal keinginan. Soal inilah yang sering menjadi pergumulan hidup kita.



Yang sering terjadi adalah kita lebih gigih mencari kenikmatan hidup dan keinginan hati dibandingkan dengan mencari kehendak Allah. 



Kita sering terbalik dengan Matius 6:33, dimana kita mencari kesenangan diri terlebih dahulu... itu yang utama, lalu jika ada waktu lebih (itupun sudah syukur kalau terpikir), kita melakukan apa yang kita anggap sebagai melakukan kehendak Allah. 



Kita sering khawatir manakala rejeki kita tidak sebesar perolehan orang lain. Kita panas hati jika jabatan kita didahului orang lain. Kita marah bila merasa hak-hak kita tidak digubris. Ini adalah wajar dan normal dalam level manusia. Jangan berada di sini, pindahlah ke level di atasnya.



Sebaliknya sering kita merasa tidak persoalan jika hidup kita tidak benar, tidak mempermasalahkan ketidaktertarikan kita untuk hidup melayani Tuhan, tidak terganggu pikiran kita berbuat salah asal rejekinya besar, tidak peduli dengan perilaku buruk asalkan uang banyak, dan sebagainya. Ini juga adalah level manusia... ini bukan posisi kita... berpindahlah ke level lain !, kita harus pindah ke level atas.



Janganlah kiranya kita hanya rajin mencari tambahan-tambahan hidup, tetapi lupa mencari yang utama... lupa menemukan kehendak Allah. 



Walau banyak kedukaan dan kesulitan hidup, meski perjalanan hidup kita terseok-seok oleh banyaknya goncangan dari kanan kiri menghadang... tetaplah setia !, tetap pegang teguh kebenaran !, tetap cari Kerajaan Allah !... ini adalah di atas level manusia, semestinya kita berada di sini.... ini rumah kita !



Biarlah hari inipun kita mulai hari kita untuk berkomitmen mencari Kerajaan Allah dan kebenaran-Nya, itulah hendaknya menjiwai dan mewarnai seluruh pekerjaan, aktifitas dan tanggung jawab kita. Selebihnya nantikanlah uluran kasih sayang Tuhan untuk menambahkan apa yang Dia pikirkan baik dan cocok buat kita.

Puji Tuhan...!!!



Selamat bekerja...

Selamat beraktifitas...

Selamat melayani...



Tuhan menyertai dan memberkati kita senantiasa. 

Amin.



Salam dan doa,

Alamta Singarimbun - Bandung

Mengendalikan Perkataan


06-Ags-2017



Yakobus 3:2 

Sebab kita semua bersalah dalam banyak hal; barangsiapa tidak bersalah dalam perkataannya, ia adalah orang sempurna, yang dapat juga mengendalikan seluruh tubuhnya.



Memang lidah tak bertulang_

Tak terbatas kata-kata

🎀🎀🎡🎡🎢🎢🎼🎼🎻🎸

. . . . . . . . . . . . .



Demikianlah syair pertama dari lagu Tinggi Gunung Seribu Janji yang dilantunkan Bob Tutupoli di era tahun 1960an.



Entah bagaimana cara menghitungnya, ada data yang mengatakan bahwa wanita mengeluarkan 20.000 kata setiap hari, sedangkan pria hanyalah 7.000 kata. Penyebabnya apa?, bagi orang yang berminat... cobalah teliti !



Yang jelas memang sangat mudah berkata. Waktu tidurpun tanpa sadar orang bisa berbicara walau sulit dimengerti apa maksudnya.



Yang sering sulit adalah melakukan apa yang baik seperti apa yang kita katakan. Maka itu Rasul Yakobus mengatakan bahwa: barang siapa yang tidak bersalah dalam perkataannya, dia adalah orang yang sempurna.



Hal ini bukanlah dimaksudkan agar kita takut dan berdiam sunyi senyap tak berkata-kata, namun paling tidak adalah penting bagi kita untuk semakin menyempurnakan diri dengan menjadi pelaku dari setiap kata-kata baik yang kita ucapkan. Pakailah juga selalu kata-kata kita untuk membangun serta mendorong orang untuk melakukan kebaikan dan apa yang mulia di hadapan Tuhan. 



Dengan demikian kita semua semakin disempurnakan dengan sejumlah kalimat yang terbentuk dari 7.000 ~ 20.000 kata-kata yang terucap dari kerja sama antara lidah tak bertulang dengan bibir kita.

Semoga...!!!



Selamat Hari Minggu.

Selamat Beribadah.

Selamat melayani.



Tuhan Yesus Kristus menyertai kita. Amin.



Salam dan doa,

Alamta Singarimbun-Bandung

Berlari Menuju Panggilan


05-Ags-2017



Filipi 3:14

dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.



Andaikan teknologi informasi pada zaman Rasul Paulus secanggih saat ini dan andaikan pula Rasul Paulus senang dengan face book, mungkin Rasul Paulus menuliskan statusnya dengan singkat:

Berlari menuju panggilan Allah”



Cobalah pikirkan... kira-kira foto apa yang akan ditampilkan Paulus dalam face booknya menghias statusnya itu?



Filipi 3:14 adalah melebihi apa yang sekedar  dinyatakan orang melalui statusnya. Pernyataan Rasul Paulus itu adalah isi hatinya... jiwanya... keinginan kuatnya... kenyataan hidupnya.



Ya... Rasul Paulus mengatakan dia berlari-lari menuju tujuan panggilannya... tidak sekedar berjalan saja.



Tentu  secara sederhana kita dapat memahami perbedaan kata antara berlari dan berjalan. Berlari lebih cepat. Berlari lebih membutuhkan energi. Berlari lebih terpusat. Tenaga lebih terkuras.



Saya ingat beberapa kali karena kemacetan jalan... hampir ketinggalan kereta. Begitu tiba di stasiun, kereta api sudah bergerak berjalan. Maka sayapun berlari sekencang-kencangnya. Seolah tidak peduli apapun. Saya sekuat tenaga fokus untuk mengejar kereta. Untunglah masih terkejar. Terasa capek... Itulah arti berlari.



Banyak orang rajin membuat dan meperbaharui statusnya setiap hari. Apa yang akan kita nyatakan dalam status kita? 

Cobalah cermati status kita saat ini... 

• Apakah kita sedang berlari ke tujuan kita?

• Apakah kita sedang berjalan santai saja ke tujuan?

• Apakah kita berlari di tempat saja?, ke luar tenaga, tapi tidak maju ke depan... ke tujuan.

• Apakah kita memang berlari cepat, tapi tidak ke tujuan arahnya?

• Apakah terus diam istirahat saja? Jangankan berlari... berjalanpun tidak.



Hendaklah kita semua tetap dan stabil seperti status Rasul Paulus dengan tujuan jelas yaitu:

 “Berlari menuju panggilan Allah



Dan memanglah betul secara nyata bahwa kita sedang berlari dalam panggilan kita masing-masing yang mungkin berbeda-beda sesuai ketentuan dan panggilan Allah. 

Puji Tuhan... !!!



Selamat beraktifitas...

Selamat melayani...



Tuhan menyertai dan memberkati kita senantiasa. 

Amin.



Salam dan doa,

Alamta Singarimbun - Bandung

Hidup yang Menyenangkan


04-Ags-2017



Roma 15:2 

Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. 



"Siapa yang ingin senang?"



Pertanyaan ini mungkin tak perlu diajukan, karena pastilah orang sehat dan normal tanpa berpikir panjang akan menjawab, "Saya !"



Agar kita sedikit berpikir dan tergugah, diubah pertanyaannya, "Sudahkah atau apakah hidup kita menyenangkan orang lain?"  



Cobalah ingat-ingat kembali siapa-siapa saja yang sudah kita senangkan (tentu tidak perlu dibangkit-bangkit !). 



Dan juga siapa saja yang sudah pernah kita buat menjadi susah (jangan diulang lagi !).  

Atau datar saja...? membuat senangpun tidak, membuat susahpun tidak?... Kita asik dengan diri sendiri ?



Rasul Paulus menyuruh kita mencari kesenangan buat sesama kita. Mencari artinya berupaya... memikirkan bagaimana caranya... mewujudkan agar itu nyata.



Ibaratnya kalau kesenangan itu seumpama barang yang bisa dibeli dan kita punya uang... belilah ! dan *berikan* ke orang yang membutuhkannya. Dan maksud dari membuat orang senang adalah agar mereka baik keadaannya dan dibangun... terutama dibangun imannya di dalam Kristus.



Jadi cobalah lihat diri kita dengan adanya sekian banyak talenta serta karunia yang dianugerahkan Allah... gunakanlah seoptimum mungkin untuk membuat orang senang dan berbahagia serta dibangun. Andaikan kita memahami dan sehati dalam hal ini serta berlomba-lomba untuk berbagi... ooo... alangkah indah dan manisnya hidup kita.



Jika saat ini kita baru memiliki kapasitas memberi 1 porsi ... berilah 1 porsi dan berdoalah agar besok lusa Tuhan mampukan kita memberi 2 porsi untuk dibagikan ke orang lain.



Mari kita terus belajar memberi kebahagiaan kepada orang lain dan percayalah bahwa Tuhan akan berikan kebahagian berlipat ganda kepada kita melalui cara-Nya... dan tidak harus melalui orang yang sudah kita bagikan kebahagiaan itu. 



Berbahagialah dengan melihat orang berbahagia di sekitar kita... apalagi dengan orang yang telah kita berikan kebaikan, dan terlebih... berbahagialah melihat orang-orang yang kita bangun imannya... nikmatilah !



Selamat bekerja...

Selamat beraktifitas...

Selamat melayani...



Tuhan menyertai dan memberkati kita senantiasa. 

Amin.



Salam dan doa,

Alamta Singarimbun - Bandung

Mencari dan Mengejar Harta Terpendam



03-Ags-2017

Amsal 2:4-5 
Jikalau engkau mencarinya seperti mencari perak, dan mengejarnya seperti mengejar harta terpendam, maka engkau akan memperoleh pengertian tentang takut akan TUHAN dan mendapat pengenalan akan Allah.

Emas atau perak diperolah dari bahan galian. Dari sekian banyak bahan galian, ada berapa persen kandungan emas atau peraknya? Tentu berbeda untuk setiap daerah galian, tetapi boleh dijawab dengan kata: sangat sedikit.

Walau sangat sedikit, tetapi harus diupayakan dengan tekun. Ada tahapan proses yang harus dilakukan. Semakin sempurna prosesnya, semakin murni emas atau perak yang didapat. 

Sebelum emas atau perak diperoleh, pastilah bahan galian itu tidak menarik. Bagi yang tidak memahami, akan dibuang atau mungkin digunakan sekedar menimbun lobang dan diinjak-injak.

Begitulah hidup ini. Sering tidak menarik dan terasa jenuh. Tetapi harus dijalani proses hidup kita masing-masing. Walau sering terasa sulit dan menyakitkan, hadapilah setiap proses dari satu tahap ke tahap berikutnya dengan baik. Jangan lari dan jangan keluar dari proses itu.

Dan adalah kewajiban bagi kita untuk saling mengingatkan, saling menasihati, saling meneguhkan dan saling mendoakan. Sudahkah kita lakukan semua ini?, atau minimal salah satupun tak apalah...

Mungkin tidak tahu kita sedang berada di tahap proses mana. Tetapi jalani saja terus. Akhirnya nanti kita akan memahami dan mengerti seluruh maksud Tuhan atas diri kita. Biarlah kita nanti mengangguk-anggukkan kepala seraya berkata, "Ohhhh... ini rupanya maksud Tuhan buat saya ya..." Bila ini terjadi, maka kita akan puas hidup. 

Sama halnya dengan seorang mahasiswa yang sedang mendapat pelajaran yang sulit. Jangan putus asa! Harus bertekun belajar. Tanyalah orang yang tahu. Datanglah ke dosennya. Bacalah bukunya. 

Bila akhirnya sang mahasiswa memahaminya, dia akan puas dan sangat senang. Jika dia orang Jepang, dia akan menganggukkan kepalanya sambil berkata... bila perlu berteriak keras-keras, " Wakatta... wakarimashita...!!!" Dosennya pun akan senang dan memberi pujian dengan nilai A.

Mari kita dengan kekuatan penuh dari Tuhan mencari dan mengejar PERAK harta terpendam berupa hikmat, pengertian dan takut akan Tuhan serta pengenalan akan Dia. Biarlah akhirnya kita nanti akan berseru "Wakatta !... Aku mengerti !" di akhir proses hidup ini. 
SEMOGA...

Selamat bekerja...
Selamat beraktifitas...
Selamat melayani...

Tuhan menyertai dan memberkati kita senantiasa. 
Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Memberi yang Terbaik


02-Ags-2017

Markus 14:6

Tetapi Yesus berkata: "Biarkanlah dia. Mengapa kamu menyusahkan dia? Ia telah melakukan suatu perbuatan yang baik pada-Ku.

Ketika ada seorang wanita meminyaki Yesus dengan minyak narwastu yang mahal, orang-orang gusar, bahkan marah. Mereka menganggap perbuatan wanita itu berlebihan. Mereka mengatakan pemborosan. Lebih baik minyak itu dijual saja dan uangnya diberikan kepada orang miskin. Seolah orang-orang ini peduli dengan kemiskinan dan peka dengan derita orang.

Berbicara soal kepedulian dan kepekaan kepada orang miskin... tertandingikah Yesus? Bahkan nyawa-Nya Dia serahkan.

Kalau kita tanya orang yang gusar dan marah itu... seandainya mereka memiliki minyak itu... apakah mereka akan menjualnya?, lantas uangnya akankah diberikan kepada orang miskin? Belum tentu juga ! Jangan-jangan mereka depositokan saja.

Perempuan itu sudah memberi yang terbaik. Apa yang paling berharga sudah diberikan kepada Yesus. 

Sebagai seorang wanita, pastilah minyak narwastu itu sangat berharga baginya. Kalau dia pakai, mungkin sedikit-sedikit saja disemprotkan ke badannya agar tidak cepat habis. Mungkin saja minyak itu dia koleksi sebagai barang berharga. 

Namun minyak itu tidak ditahan-tahannya... ditumpahkan dan dicurahkannya di atas kepala Yesus. Baginya hal ini sebagai bentuk penghormatan, penghargaan dan persembahan kepada Yesus. Hal inilah yang tidak ditangkap dan tidak dimengerti oleh orang-orang yang gusar dan marah itu.

Selanjutnya Tuhan Yesus merespons wanita itu dengan berkata kepada orang-orang yang hadir di situ ...
Aku berkata kepadamu: “Sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukannya ini akan disebut juga untuk mengingat dia." (Markus 14:9)

Ahhh... indah sekali perkataan Yesus... Luar biasa !

Bagi orang yang gusar dan marah itu... kapankah mereka akan memberi yang terbaik kepada Yesus? Menyimak dan mempelajari kegusaran dan kemarahan mereka, mungkin jawabnya: "kapan-kapan."

Para sahabat... 

Bagaimana sikap hati kita kepada Yesus?
Apakah kita tergolong kepada wanita itu?
Ataukah seperti orang gusar dan marah itu?

Kapankah kita memberi dan mempersembahkan yang terbaik kepada Yesus melalui harta dan talenta serta karunia kita?

Semoga jawabannya: "sekarang!", BUKAN: “kapan-kapan".

Doa kita:
"Tuhan Yesus, meski aku tidak seperti wanita itu membawa minyak narwastu yang mahal, tapi aku akan membawa diri dan hatiku untuk melakukan apa yang terbaik setuju dengan kehendak-Mu... Amin..."



Selamat beraktifitas...
Selamat melayani...
Tuhan senantiasa menyertai dan memberkati kita. 

Amin.
Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

Materi Test Bijak



01-Ags-2017

Amsal 12:16
Bodohlah yang menyatakan sakit hatinya seketika itu juga, tetapi bijak, yang mengabaikan cemooh.

Ada dua kontras sifat yang dikatakan oleh Salomo yaitu bodoh dan bijak.

Dalam hal ini arti bodoh dan bijak tidak dikaitkan dengan kecerdasan otak dan gelar akademik, tetapi dihubungkan dengan sikap

Orang yang capaian akademiknya bagus dapat saja tetap bodoh dan kehadirannya menggelisahkan orang.

Orang tanpa gelarpun kehadirannya dapat membawa ketenangan, kedamaian dan meneduhkan.

Orang yang mudah sakit hati dan tanpa pikir panjang langsung marah mengekspesikan kekesalannya dikatagorikan sebagai orang bodoh. Mudah disulut. Gampang terbakar dan cepat panas hati serta berlama-lama di situ. Mudah panik dalam situasi yang dianggapnya tidak untung. Emosional.

Orang bijak digambarkan sebagai orang yang bersabar. Pemaaf. Orang yang bersikap tenang dan mampu menahan emosinya walau diperlakukan tidak baik... itulah ciri bijak.

Masihkah kita dalam era kebodohan dengan gampang meledak?
Ataukah kita sudah naik kelas ke tingkat-tingkat kumpulan orang bijak?

Sulit memang menahan diri untuk tidak marah ketika hak kita diabaikan, tidak dianggap, direndahkan, disepelekan, dikata-katai, dikasari, dibohongi, tidak dibela padahal kita benar, dan sebagainya. Tapi inilah materi test bijak itu dengan banyak ragam dan bentuknya. 

Maukah kita naik? Ke sanakah arah kita sekarang?

Atau tetap saja, bahkan turun?... JANGAN !!!

Selamat beraktifitas...
Selamat melayani...

Tuhan senantiasa menyertai dan memberkati kita. 
Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun – Bandung

RENUNGAN

KRISTEN PROGRESIF vs AJARAN ALKITAB

11 April 2024   KRISTEN PROGRESIF vs AJARAN ALKITAB   Beberapa hari ini kita dimarakkan dengan viralnya video yang menayangkan wawancara den...