Tergantung Siapa yang Memberi


1 Oktober 2019

Yakobus 1:17
Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Ada seorang kawan yang begitu senang dan bangga bercerita tentang buku miliknya. 

Bukunya itu dia terima langsung dari pengarangnya yang terkenal, dan di buku itu tertera tanda tangan pengarangnya itu... lengkap dengan kota dan hari serta tanggalnya, yang dibubuhkan saat diterima.

Memang bukan hanya nilai dan harga buku itu yang penting, tapi rupanya dari siapa buku itu datangnya terlebih penting. Sebab buku itu ada banyak dijual di toko buku.

Kita menerima pemberian dan anugerah yang baik. Pemberian itu bukan saja kita lihat dari sisi nilainya, tetapi terlebih penting adalah dari SIAPA kita terima. Pemberian itu datang dan dianugerahkan oleh Allah Bapa yang sempurna.

Karena begitu banyaknya pemberian-Nya yang telah kita terima, mungkin kita sampai lupa saatnya dan apa saja yang telah Allah beri. Tidak apalah... tetapi yang tidak boleh kita lupa adalah Allah yang memberi. Allah Yang Sempurna sebagai sumber anugerah adalah Allah Bapa kita yang tidak pernah berubah. Dia sejati. Dia bukanlah bayangan yang abstrak.

Sebagaimana Allah kita sempurna dan tak pernah berubah oleh apapun, maka biarlah kita juga semakin disempurnakan oleh Kristus. Biarlah kasih setia kita kepada Dia, Allah Bapa Yang Maha Baik dan Sempurna, semakin bersemi dan semakin mesra.
S e m o g a  ! !

Selamat belajar.
Selamat betaktifitas.
Selamat melayani.

Tuhan memberkati.
Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung.

Hidup Memuliakan Allah


30 September 2019

Efesus 2:10 
Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.

Seandainya kita bisa menciptakan apa saja yang kita mau, apa yang akan kita ciptakan?

Pertanyaan lanjutan adalah untuk apa hal itu kita ciptakan?

Pastilah yang kita ciptakan itu bertujuan untuk menyenangkan hati kita. Kita ciptakan untuk kebanggaan kita.

Untuk apa kita dibuat dan diciptakan Allah?

Seorang penulis terkenal dengan bukunya yang laris terjual mengatakan bahwa kita diciptakan untuk menyatakan kemuliaan Allah.

Rasul Paulus mengatakan bahwa kita diciptakan untuk melakukan pekerjaan baik. Keinginan Allah adalah agar kita hidup di dalam tujuan untuk apa kita diciptakan. Allah mau itu.

Sebab itu marilah kita senantiasa memuliakan Allah dengan berbuat apa yang baik berupa:
• melayani dengan sungguh-sungguh,
• bekerja dengan tekun dalam profesi masing-masing, dapat dipercaya dalam tanggung jawab yang diberikan, apapun itu, bila memungkinkan ada prestasi-prestasi kerja yang bermakna bagi banyak orang,
• dalam konteks khusus, kita bertujuan menolong orang percaya untuk berfokus kepada Kristus, 
• dalam masyarakat umum yang heterogen, kita berperan menghadirkan Kerajaan Allah... menolong orang bahwa ada Allah yang harus kita taati, dan bila keadaan sudah memungkinkan bawalah mereka untuk percaya dan menerima Kristus.

Mari kita fokuskan hidup kita untuk melakukan apa yang baik sebagai wujud dari tujuan untuk apa kita diciptakan Allah. Jangan tunda-tunda, lakukanlah hari ini juga sesuai kapasitas dan peran yang Tuhan beri.

Selamat belajar.
Selamat betaktifitas.
Selamat melayani.

Tuhan beserta kita.
Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung.

Hadir Menjadi Berkat


29 September 2019

Kejadian 13:6-7  
Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.
Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.

Terkadang adanya ketidaksepahaman atau perselisihan dalam keluarga, atau antara sesama, bahkan dalam gereja/persekutuan... bukanlah karena kekurangan, tetapi justru dalam kelimpahan, atau malah disebabkan kelebihan.

Begitulah yang terjadi antara gembala Abraham dengan gembala Lot. 

Ternak mereka luar biasa banyaknya, sehingga bersaing berebut padang rumput. Akibatnya; Abraham dan Lot tidak dapat lagi berdampingan diam rukun bersama.

Mirip-mirip kisah ini bisa terjadi dalam hidup kita; bersaing dalam dunia usaha, sikut-sikutan beroleh jabatan, tak mau mengalah dalam pembagian warisan... banyak lagi...
Ironinya: juga perselihan berebut pengaruh dalam pelayanan, dan sebagainya... ini sungguh menyedihkan.

Marilah kita mengoreksi dan menilik hati kita. Biarlah berkat yang kita terima dari Tuhan, membuat hidup kita memberkati sebanyak mungkin orang. 

Pakailah kelebihan kita dalam hal tertentu untuk melengkapi apa yang masih kurang.

Gunakanlah hikmat yang Tuhan beri untuk menjadi solusi hidup bagi banyak orang.

Hadirlah untuk membawa angin segar dan menyejukkan.

Meski kita juga rasanya banyak kekurangan, tapi berilah semangat dan dorongan agar orang-orang sekitar kita menjadi optimis.

Meski hak kita diselewengkan dan kita tidak dihargai orang, dan mungkin jerih lelah kita tidak mendapat sambutan,  orang-orang bersikap dingin kepada kita... tak apa-apa. Tuhan Maha Tahu. Serahkan saja kepada Dia. 

Tetaplah konsisten dan semangat dan antusias dengan apa yang kita yakini dalam Kristus. Itu sajalah kita lakukan. Dari Tuhan upah kita. 

Pintu yang kita harapkan mungkin tertutup, tapi pasti ada pintu lain Tuhan bukakan. 

Kalaupun bukan pintu yang Tuhan bukakan, mungkin hanyalah jendela sempit saja. Bersyukurlah! 

Kalaupun bukan jendela yang terbuka, mungkin hanyalah celah kecil saja. Itupun tak mengapa. Asalkan melalui celah kecil itu ada mengalir SINAR ILAHI... itu sudah amat memuaskan dan lebih dari cukup! 

Puji Tuhan !
Muliakanlah Tuhan Yesus !

Selamat Hari Minggu.
Selamat beribadah.
Selamat melayani.

Tuhan beserta kita untuk menjadi berkat bagi sesama kita.
Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Tuhan Memberi Yang Terbaik Bagi Kita


28 September 2019

Matius 7:9-11   
“Adakah seorang dari padamu yang memberi batu kepada anaknya, jika ia meminta roti, atau memberi ular, jika ia meminta ikan?
Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya."

Seorang ayah akan selalu memberi apa yang baik kepada anak-anaknya.

Ketika ayah tidak memberi kepada anaknya, mungkin ada 3 hal utama penyebabnya, yaitu:
1. Apa yang diminta, tidak sesuai atau tidak cocok dalam pandangan sang ayah, mungkin ada bahaya-bahaya tertentu jika permintaan sang anak dikabulkan.
2. Sang ayah sedang menunda, dengan maksud untuk menguji kesabaran anaknya, sebab hal ini sangat penting untuk karakter sang anak, terutama dalam hal kesabaran.
3. Apa yang diminta memang tidak/belum ada, artinya mungkin situasi dan kondisi membuat sang ayah belum memungkinkan untuk memberi.

Di luar ketiga hal tersebut, pastilah seorang ayah akan memberikan apapun yang diminta anaknya, meskipun ayah tersebut dinilai orang kurang baik. Apalagi kalau ayah yang baik, pasti dia ingin selalu memberi yang terbaik kepada anak-anaknya.

Allah adalah Bapa kita. Allah sungguh baik dan sungguh mengasihi kita. Kita percaya itu, dan memang itu benar!

Dalam hal memberi, dari 3 hal yang disebutkan di atas, yang ke-3 (nomor 3), tidak berlaku bagi Allah, sebab Dia sanggup berbuat apa saja kepada kita sesuai sifat-Nya.

Oleh sebab itu kita bersyukur dan memuji Tuhan, sebab Dia sungguh baik, dan Dia akan selalu memberi apa yang terbaik bagi kita.
P u j i  T u h a n   ! ! !

Selamat berlibur.
Selamat beraktivitas.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan memberkati kita.
Amin.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Bertumbuh Dalam Firman Untuk Berbuah


27 September 2019
Lukas 8:15 
“Yang jatuh di tanah yang baik itu ialah orang, yang setelah mendengar firman itu, menyimpannya dalam hati yang baik dan mengeluarkan buah dalam ketekunan."

Dalam perumpamaan Tuhan Yesus tentang penabur yang menabur benih, ada berbagai tipe tanah tempat jatuhnya benih itu.

Dalam Lukas 8:1, disebutkan tipe tanah yang baik. Dalam tipe ini, benih tumbuh dengan baik dan normal. Dengan pertumbuhan yang baik, akhirnya keluar buah. Inilah hasil yang ditunggu.

Bagaimana dengan kita?

Apakah kita terus bertumbuh dalam pengenalan akan Kristus?

Apakah firman yang kita dengar dan pelajari terus bekerja dalam hidup kita, sehingga terus-menerus ada perubahan dalam karakter kita menjadi semakin serupa dengan Kristus? 

Hal tersebut, wujudnya terlihat dalam karakter kita.

Biarlah hati kita menjadi tipe tanah yang subur untuk bertumbuhnya firman Allah. Karakter Kristus adalah idealisme kita sebagai anak-anak Allah. Biarlah itu menjadi semakin nyata dalam keseharian kita.

Untuk itu, kita sungguh butuh penyertaan Kristus. Kita bergantung kepada Dia. Beri diri kita dipimpin Roh Kudus melalui ketaatan... kita mau bayar harga. Kita harus saling membangun. 

Walau buah-buah hidup kita belumlah banyak, bahkan ibarat pohon... sedang belajar berbuah, bertekunlah... teruslah bertumbuh... bertumbuhlah terus.

Selamat belajar.
Selamat bekerja.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai kita untuk terus bertumbuh semakin mengenal Dia dan hidup kita menuju berbuah banyak.

Salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

Pertolongan Tuhanlah yang Kita Butuh


26 September 2019

Yohanes 5:5-9 
Di situ ada seorang yang sudah tiga puluh delapan tahun lamanya sakit.
Ketika Yesus melihat orang itu berbaring di situ dan karena Ia tahu, bahwa ia telah lama dalam keadaan itu, berkatalah Ia kepadanya: "Maukah engkau sembuh?"
Jawab orang sakit itu kepada-Nya: "Tuhan, tidak ada orang yang menurunkan aku ke dalam kolam itu apabila airnya mulai goncang, dan sementara aku menuju ke kolam itu, orang lain sudah turun mendahului aku."
Kata Yesus kepadanya: "Bangunlah, angkatlah tilammu dan berjalanlah."
Dan pada saat itu juga sembuhlah orang itu lalu ia mengangkat tilamnya dan berjalan.

Ada seorang yang sakit sudah cukup lama di tepi kolam Betesda. Dia menantikan air kolam itu bergoncang, tetapi sayangnya, dia tidak mampu masuk ke dalam kolam itu. Sudah selama 38 tahun dia seperti itu menunggu. 

Persoalan utamanya adalah tidak ada yang menolong... dia butuh bantuan untuk dipapah ke dalam kolam. Mungkin rasa sakitnyapun semakin parah jadinya.

Saat Tuhan Yesus bertanya kepadanya apakah dia mau sembuh, orang tersebut tidak menjawab secara eksplisit keinginannya untuk sembuh. Dia langsung menjawab kepada apa yang dia pikirkan sebagai kebutuhannya, yaitu adanya orang yang bersedia mengangkat dan memasukkan dia ke dalam kolam. 

Boleh jadi, ketika Tuhan Yesus menyapa dia, dia berharap Yesus mungkin akan bersedia menemani dan mendampingi dia. Ketika nantinya air kolam bergoncang, Tuhan Yesus yang akan mengangkat dia ke kolam. Pikiran dia seperti itu.

Akan tetapi Tuhan Yesus tidak perlu mendampingi dia menanti air kolam itu bergoncang. Dengan kuasa-Nya, langsung saja Tuhan Yesus menyembuhkan dengan cara-Nya. Tuhan Yesus berkuasa.

Tuhan mengenal kita. Dia menawarkan pertolongan dalam menghadapi kehidupan ini. Namun dalam mengatasi masalah, kita sering menghadapinya dengan cara kita. Mungkin sudah lama kita seperti itu. Atau kita sedang berharap ada orang-orang yang akan memberi pertolongan. 

Kita berharap sesuatu sesuai konsep yang kita bangun dalam pikiran. Kita berharap dan bergantung kepada sesuatu yang tidak pasti.

Memang kita dapat dan haruslah berupaya untuk memanfaatkan kebolehan dan kemampuan kita plus bantuan orang-orang tertentu untuk menghadapi masalah. Tetapi bila itu saja... tidaklah cukup. Kita butuh pertolongan Tuhan.

Oleh karena itu, mari kita percayakan hidup ini kepada Yesus sepenuhnya. Yesus PEMIMPIN kita.

Tuhan Yesus akan bertindak dan berbuat melebihi apa yang mampu kita pikirkan.

Selamat belajar.
Selamat bekerja.
Selamat melayani.

Tuhan menyertai dan memberkati kita.
Amin

Salam dan doa,
AlamtaSingarimbun-Bandung

Meneladani Kristus dan Menjadi Teladan


25 September 2019

1 Korintus 4:16 
Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!

Istimewa dan indah sekali kehidupan Paulus yang dapat mengatakan kepada orang-orang Korintus, "Turutilah teladanku!"

Pastilah berat sekali dapat mengatakan seperti itu, dan memang faktanya demikian perjuangan Paulus.

Bagaimana dengan kita?

Semua tentu adalah proses. Butuh waktu. Tapi jika waktu lebih cepat... akan lebih baik.

Paling tidak, biarlah kita dapat berkata-kata dengan tutur kata yang baik, hangat dan santun. Kata-kata kita berisi. Biarlah kata-kata kita selalu bertujuan membangun dan menguatkan orang lain... sambil kitapun terus berproses menuju apa yang kita ucapkan. 

Kitapun teruslah berjuang di dalam dan bersama Kristus agar hidup kita dapat menuju seperti Paulus, dimana tanpa kata-katapun, orang melihat dan terdorong melakukan apa yang orang lihat yang sedang kita lakukan. 

Kuncinya adalah mari kita taat mulai dari hal-hal sederhana. Pegang janji-janji Allah. Teladani kehidupan Yesus, dan juga tempuhlah jalan-jalan kehidupan orang-orang yang hidup mengasihi Kristus. 

"Tuhan Yesus, mampukanlah kami yang lemah tak berdaya apa-apa ini untuk taat dan meneladani Engkau, sehingga kamipun dimampukan hidup menjadi teladan bagi orang lain. Ampunilah kami dalam banyaknya kami gagal menjadi teladan bagi orang sekitar kami. Walau tak seberapa, biarlah hari inipun ada yang dapat kami lakukan sebagai wujud teladan yang baik bagi sesama kami. Amin"

Selamat belajar. 
Selamat bekerja.
Selamat melayani.

Tuhan Yesus menolong kita menjadi teladan yang baik bagi sesama. Amin.

Teriring salam dan doa,
Alamta Singarimbun-Bandung

RENUNGAN

KRISTEN PROGRESIF vs AJARAN ALKITAB

11 April 2024   KRISTEN PROGRESIF vs AJARAN ALKITAB   Beberapa hari ini kita dimarakkan dengan viralnya video yang menayangkan wawancara den...